Saturday, July 25, 2009

roda dua....dulu dan kini


dulu...tinggal kenangan.


kini??jeng2...hehe..



.
ini??hehe...

mana mungkin untuk aku memiliki basikal seperti diatas ni..insyaallah.untuk mendapatkan sebijik macam tu,memang aku akui, aku tak mampu. tapi, nak dapatkan speksifikasi macam basikal di atas ni, insyaallah...akan ada nanti.tunggu...

minat terhadap basikal memang tak dapat aku nak elak lagi.mula-mula, selepas aku menjual basikal aku kepada orang putrajaya tu, aku akui aku tak nak lagi berkecimpung dalam basikal lagi. oleh kerana minat, aku tak dapat nak tahan lagi...jadi, kini aku kembali.

hehe...tunggu.my bike will post soon.








layan...

Ombak lautan berombak
Mengapa mengubah pasir di pantai
Bayu bertiuplah bayu
Mengapa menjadi ribut dan badai

Begitu kita merancangkan
Belum pasti hadirnya kebahagiaan
Fahamlah apa itu takdir
Akan berseri hidup yang ditadbir

Hidup menggadai harta
Agar diri berharga
Janganlah kau salah mengerti
Kelak kau kan menggadai diri

Mencari penghormatan
Janganlah sampai terkorban
Yang mulia pasti kita hormatkan
Yang rendah jangan dihinakan

Tenang di air yang tenang
Jangan di sangka boleh direnang
Kail panjanglah sejengkal
Janganlah lautan hendak diduga

Itulah pesan orang lama
Menjadi bekal pada yang berusaha
Ingatlah pepatah ini
Menjadi panduan hidup berbudi

suka mendengar lagu ini...
Ombak lautan berombak
Mengapa mengubah pasir di pantai
Bayu bertiuplah bayu
Mengapa menjadi ribut dan badai

Begitu kita merancangkan
Belum pasti hadirnya kebahagiaan
Fahamlah apa itu takdir
Akan berseri hidup yang ditadbir

Hidup menggadai harta
Agar diri berharga
Janganlah kau salah mengerti
Kelak kau kan menggadai diri

Mencari penghormatan
Janganlah sampai terkorban
Yang mulia pasti kita hormatkan
Yang rendah jangan dihinakan

Tenang di air yang tenang
Jangan di sangka boleh direnang
Kail panjanglah sejengkal
Janganlah lautan hendak diduga

Itulah pesan orang lama
Menjadi bekal pada yang berusaha
Ingatlah pepatah ini
Menjadi panduan hidup berbudi

suka mendengar lagu ini...

Thursday, July 23, 2009

aku dan cikgu-bahagian 1

salam....rasanya dah lama aku tak post kat blog aku ni.maaf ya,klu ada yang view blog aku,tapi masih yang lama je...sekarang,i'm back.insyaallah...aku akan cuba untuk berkarya dalam aku punya blog,AkuBudakMelanau...
pejam celik,dah di hujung pengajian aku di sini, Institut Pendidikan Guru Malaysia kampus Teknik. sejak aku bermula pengajian dalam pendidikan ni,ni rasanya kali kali ketiga nama tempat aku di tukar. bermulanya, Maktab Perguruan Teknik Kuala Lumpur,kemudian ditukar pula kepada Institut Perguruan Teknik dan akhirnya Institut Pendidikan Guru Malaysia kampus Teknik. itulah,namanya peredaran masa sekarang begitu sekejap je berlalu...

sepintas aku teringat kembali semasa aku mula-mula mendaftar di Maktab Perguruan Gaya yang kini bergelar Institut Pendidikan Guru Malaysia kampus Gaya. Di situlah aku mengenal kawan-kawan yang hingga kini bersamaku untuk menjadi warag pendidik. saudara Yusri, Mohd.Nor, Faiz, Hafizan, Clarence, Irman, Kent Morris, Fariz, Fadrul, Khairulazwan, Hafiz dan Hanif. Kawan perempuannya pula saudari Tan Mary, Hanum, Elizabeth, Elly Stancey dan Sharini. Tidak lupa kepada kawan ku dua org yang berada di kampus Mizan,Muiz dan kampus Bahasa Melayu, Hasniah. Banyak ragam, banyak cerita yang terjadi di antara kami. Pahit, manis, suka duka bersama dalam mengharungi batch 1 pada masa tu...ya.lepas ni, entah bila kita akan bersua kembali??insyaallah, kita akan berjumpa lagi.
aku, di zaman pra...macamne??hehe

kawan-kawan sekelas zaman pra...ada berubah ka,dlu & sekarang??


muka beriman je pergi kelas...xda ponteng tau..hehe


kelas aku @ Pendidikan Luar....Best sangat!


kelas aku...julai 2004-2006

Saturday, May 30, 2009

Kenangan Di Sekolah Kebangsaan Sungai Lui Selama 2 Bulan...

Terima kasih kepada semua di Sekolah Kebangsaan Sungai Lui....insyaallah, akan bersua kembali.






Cikgu Azman...terima kasih atas bimbingan dan tunjuk ajar.



Ustaz Fadzly...terima kasih nolong wat mural...hehe

Cikgu Mazlan...mencari keta,cari dia...hehe.baik punya...

Dari kiri-Cikgu Asmizul & Cikgu Malik...ada beran,pingpong...hehe

Cikgu Zalinor...yang dedikasi

Cikgu Nora...yang cool

Orang-orang kuat SK.Sg.Lui (dari kiri)
Cikgu Husni (PK.HEM), Cikgu Syarifah (PK), Cikgu Selamah (GuruBesar) & Cikgu Nazri (PK.Koku)

Inilah cikgu-cikgu yang ada di SK.Sg.Lui yang tetap komited dengan tanggungjawab masing-masing...

Cikgu-cikgu lelaki SK.Sg.Lui...

Cikgu-cikgu perempuan di SK.Sg. Lui...

Cari Menantu???




Sekadar perkongsian ilmu. Hayati cerita ini.

''Ass, Kak. Aku baru nyampe rumah.''
Tak sabar Yayah mengirimkan SMS itu begitu tiba kembali di Tanah Air. Empat tahun lamanya ia menuntut ilmu di Al-Azhar University, Cairo. Tiga tahun di antaranya dilaluinya dengan menyimpan kenangan dan rindu kepada Qodari. Ya, lelaki asli Madura itu telah merebut hatinya sejak saat pertama menyambut kedatangannya di pagi buta, di Bandara Internasional Cairo. Bersama sejumlah senior lainnya, Qodari menjemput rombongan mahasiswa baru Al-Azhar University asal Indonesia yang merupakan peserta program beasiswa kerja sama Indonesia-Mesir.

Yayah segera saja menjadi bintang mahasiswa Al-Azhar angkatan tahun tersebut. Posturnya tinggi, dengan hidung bangir, bibir merah delima asli tanpa pulasan lipstik, dan kulit seputih kapas. Busana apa pun yang dikenakan gadis berdarah Sunda itu hanya membuatnya makin kelihatan cantik dan mempesona. Banyak kakak kelasnya yang berupaya menampakkan perhatiannya. Terutama mahasiswa tahun keempat yang sudah hampir lulus S-1 maupun mereka yang sedang menempuh jenjang pendidikan Pasca Sarjana.

Hanya Qodari yang sama sekali tak pernah memberikan sinyal khusus kepadanya. Meskipun ia tak pernah menolak jika Yayah memerlukan bantuannya. Terkadang Yayah ingin bertanya kepada kakak kelasnya, apakah Qodari sudah mempunyai calon istri. Namun ia merasa malu sendiri. Baru datang ke Mesir kok udah bicara cinta? Setahun kemudian, Qodari lulus S-1. Ia akan pulang ke Indonesia sebentar, lalu melanjutkan pendidikan S-2 di Pakistan.

Yayah dan sejumlah teman mengantarnya ke bandara. Ada yang terasa hilang di jiwanya saat sosok lelaki yang selama ini kerap mengisi relung batinnya itu menghilang dari pandangan sesaat setelah melewati imigrasi. Negeri Mesir yang indah kini terasa begitu hampa. Ketika mobil yang ditumpanginya perlahan meninggalkan bandara, matanya menatap jauh ke landasan, ke deretan burung-burung besi yang dengan angkuhnya bertengger di sana. Kalau saja ia punya sayap, ingin rasanya ia terbang dan hinggap di pesawat yang akan mengantar Qodari pulang ke Indonesia.

Betapa kejamnya Kak Qodari. Ia pergi tanpa pernah memberikan tanda apa pun kepadanya. Apakah ia begitu keras hatinya, sehingga tak mampu menangkap sinyal perasaan yang dikirimkan oleh seorang gadis -- meski itu hanya berupa wajah memerah dan sikap canggung manakala tanpa sengaja berpapasan di perpustakaan kampus, Masjid Al-Azhar, dan Wisma Nusantara yang merupakan pusat aktivitas mahasiswa Indonesia di Mesir. Padahal, lulusan terbaik Al-Azhar University dengan predikat Mumtaz itu dikenal selalu ramah dan simpatik kepada siapa pun.

Diam-diam ia pun menyesali dirinya. Kenapa ia tak berterus terang saja, atau setidaknya mengirimkan sinyal yang lebih jelas, misalnya berupa SMS yang berisi sindiran tentang cinta. Atau, mengapa ia tidak menitipkan salam lewat salah seorang kakak kelasnya yang sama-sama aktif di PPMI bersama Qodari?

''Yayah, kamu sakit?'' tanya Aisyah, melihat wajah Yayah yang agak pucat. Buru-buru Yayah menggeleng. ''Ah, tidak. Hanya kurang tidur saja,'' kilahnya. Sesaat sebelum pesawat Singapore Airlines yang akan membawanya dari Cairo ke Jakarta bersiap-siap untuk lepas landas, Qodari mengirimkan SMS: ''Bila kamu mau menjadi istriku, aku akan menunggumu.' ' Membaca SMS tersebut Yayah rasanya ingin berteriak dan melompat dari mobil. Namun ia berusaha menahan perasaannya sewajar mungkin.

''Welcome home. Jadi, kapan aku boleh datang melamarmu? Wss.'' Balasan dari Qodari selalu pendek dan to the point. Namun itu sudah lebih dari cukup. ''Aku akan bicara dulu dengan Abah. Nanti aku kabari Kakak.'' Butuh waktu sebulan, baru KH Syamsuri, ulama terpandang di Bekasi, mengizinkan Qodari datang melamar putri kesayangannya. ''Saya tunggu Jumat pagi, pukul enam,'' kata KH Syamsuri kepada Qodari, lewat telepon.

Dua tahun di Pakistan, Qodari kembali ke Tanah Air dengan menggondol gelar Master di bidang ekonomi syariah. Ia mengajar ekonomi syariah di salah satu universitas ternama di Jakarta. Ia rajin menulis di media massa, khususnya mengenai ekonomi Islam. Ia pun menjadi da'i dan sudah mulai sering tampil di acara keislaman di televisi. Tepat pukul enam kurang 10 menit, ia tiba di rumah Sang Kiai. Ulama kharismatis itu sedang duduk di beranda sambil memegang tasbih dan melantunkan zikir.

''Assalaamu' alaikum.' '
KH Syamsuri menoleh. ''Wa'alaikumsalaam. ''
Qodari segera mencium tangan Sang Kiai. ''Saya Qodari.''
''Silakan duduk.'' Suaranya terdengar berwibawa. Sorot matanya tajam.
''Terima kasih, Pak Kiai.''
Yayah menyaksikan dari dalam rumah. Hatinya berdegup kencang melihat wajah yang selalu dirindukannya itu.
''Sayang, mana tehnya?''
''Siap, Abah.''
Yayah segera mengantarkan minuman teh manis. Wajahnya terasa bersemu merah ketika Qodari menatapnya. Tanpa sengaja ia menunduk.
''Duduk di sini, sayang,'' kata KH Syamsuri.
Dengan kikuk, Yayah duduk di samping ayahnya, berhadapan dengan Qodari. ''Silakan jelaskan, apa tujuan kamu datang ke rumah saya,'' suara KH Syamsuri terdengar sangat tegas.
''Terima kasih, Pak Kiai. Saya berniat melamar Yayah untuk menjadi istri saya.''
KH Syamsuri tidak langsung menjawab. Ia menatap pemuda di hadapannya, seperti ingin mencari kepastian di matanya. Tanpa sadar, Qodari mengangguk. Yayah merasa serba salah. Ia tidak berani mendonggakkan wajahnya.
''Tadi malam kamu shalat Tahajud?'' tanya KH Syamsuri tiba-tiba.
''Ya, Pak Kiai.''
''Tadi pagi shalat Shubuh di mana?''
''Saya shalat Shubuh berjamaah di Masjid An-Nur, Perumahan Permata Timur, Kalimalang.' '
''Ya, sudah. Tiga bulan lagi kamu balik ke sini.''
Setelah itu, KH Syamsuri masuk ke dalam rumah. Qodari pun beranjak pulang. Yayah ingin protes kepada abahnya. Namun ia tidak berani. Abahnya sangat sayang kepadanya, apalagi semenjak ibunya meninggal enam tahun lalu. Namun ia sangat tegas memegang prinsip.
Tiga bulan kemudian, Qodari datang lagi. Namun hal yang sama berulang. Ia diminta datang lagi tiga bulan kemudian. Lagi-lagi, pertanyaannya sama, yakni di mana dia shalat Tahajud dan shalat Shubuh.
Hari ini, untuk yang kelima kalinya Qodari datang ke rumah KH Syamsuri. Berarti kurang lebih setahun lamanya ia melamar Yayah. Pertanyaan KH Syamsuri tetap tidak berubah.
''Saya Tahajud dilanjutkan Shubuh berjamaah di Islamic Centre Bekasi,'' sahut Qodari mantap.
''Selama setahun ini, berapa kali kamu tidak shalat Tahajud, dan berapa kali kamu tidak shalat fardhu berjamaah.''
''Alhamdulillah, tidak satu kali pun, Pak Kiai.''
Tiba-tiba KH Syamsuri bangkit dari duduknya, dan memeluk Qodari. ''Aku izinkan engkau menikahi putriku. Bimbinglah ia ke jalan yang diredhai Allah, dunia dan akhirat,'' bisiknya perlahan namun tegas di telinga Qodari.
Yayah menarik napas lega. Wajahnya tiba-tiba tersenyum sumringah.

KH Syamsuri melirik putrinya. ''Sayangku, calon suamimu berkhidmat di bidang dakwah dan pendidikan. Bagaimana ia bisa menjadi seorang dai yang istiqamah, kalau ia tidak menegakkan shalat Tahajud dan shalat fardhu berjamaah? Ketahuilah, Tahajud merupakan pakaian para Nabi, Rasul dan orang-orang saleh. Sedangkan shalat fardhu jamaah merupakan ukuran kesungguhan iman seseorang. Kamu pasti pernah membaca hadits, cukuplah untuk mengetahui seseorang itu golongan munafik atau bukan dari shalat Shubuhnya, berjamaah atau tidak.''

Kita Dipanggil Allah Hanya Tiga Kali


Buat tatapan bersama semoga memberi kebaikan buat kita bersama....





Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk menuju Mekah.Aku bertanya pada Ibu. "Ibu, ada cerita apa yang menarik dari Umrah...?" Maklumlah, ini pertama kali aku berumrah. Dan Ibu, memberikan Tausyiahnya. Ibu adalah pemilik Maknah Tour Travel dimana saya menunaikan untuk Umrah di bulan Julai 2007 yang lalu.Kebetulan umrahku dimulai di Madinah dulu selama 4 hari, baru ke Mekah.Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Jadi aku mempunyai kesempatan untuk bertanya tentang Umrah. Ibu berkata,"Luqman, Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup..."
Keningku berkerut."Sedikitny a Allah memanggil kita...?"Ibu tersenyum. "Iya, tahu tidak apa 3 panggilan itu..?" Saya menggelengkan kepala.

"Panggilan pertama adalah Azan", ujar Ibu. "Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar. Ketika kita solat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih tenang, Dia tidak "cepat marah" akan sikap kita. Kadang kita terlambat, bahkan tidak solat sama sekali kerana malas. Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi hambaNya, baik hambaNya itu menjawab panggilan azan-Nya atau tidak. Allah hanya akan membalas hambaNya ketika hari Kiamat nanti". Saya terpaku,mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan solat kerana meetinglah, sibuk berurusan dengan rakan sepejabatlah, dan lain lain. Masya Allah.

Ibu menyambung, "Luqman,panggilan yang kedua adalah panggilan Umrah/Haji. Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya "bergiliran" .Seorang hambaNya mendapatkan kesempatan yang berbeza dengan hamba yang lain. Jalannya bermacam-macam. Yang tidak punya wang menjadi punya wang, yang tidak merancang pula akan pergi, ada yang memang merancang dan terkabul. Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan "Labaik Allahuma Labbaik", sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang kedua. Saat itu kita merasa bahagia, kerana panggilan Allah sudah kita jawab, meskipun panggilan itu halus sekali. Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang mampu". Mata saya semakin berkaca-kaca. Subhanallah. Saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan.Alhamdul illah...

"Dan panggilan ke-3", lanjut Ibu, "adalah KEMATIAN. Panggilan yang kita jawab dengan amal kita. Pada kebiasaan, Allah tidak memberikan tanda-tanda secara langsung, dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal soleh. Kerana itu Luqman, manfaatkan waktumu sebaik-baiknya.
Jawablah 3 panggilan Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah.Insya Allah syurga adalah balasannya.. ."
Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah kerana kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya.
Kala itu hati saya makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan kain Ihram dan berniat.Aku menjawab panggilan UmrahMu,ya Allah, Tuhan Semesta Alam.